’’Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan kekuatan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus dab supaya mereka mendirikan shalat...........’’(QS. Al-Bayyinah : 5)
Semua harus berawal dari ’keikhlasan’, demikian juga shalat. Karena itu, shalat harus dimulai dengan ’niat’ .... ’’Setiap amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.....’’ (HR. Bukhari-Muslim). Imam an-Nawawi menulis sebagai berikut :’’Niat artinya menyengaja. Orang yang shalat hendaknya menyengaja di dalam hatinya, shalat apa yang akan dilakukannya, seperti shalat dzuhur, shalat fardhu dan lainnya. Niat dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.’’
Pertama-tama adalah tidak menduakan Allah SWT di dalam keyakinan dan pentembahan. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada Tuhan bersama Allah. Satu-satunya Tuhan adalah Allah SWT di dalam keyakinan dan penyembahan. Inilah syarat utama bagi seorang pecinta di dalam perjumpaan dengan Allah SWT ketika shalat dan di akhirat ..........’’Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.’’ (QS. Al-Kahfi : 110)
Kemudian, tidak menjadikan tujuan lain kecuali Allah, sebagai tempat tujuan ibadahnya, termasuk shalatnya. Shalatnya haruslah karena dan untuk Allah Allah semata.... ’’sesungguhnya shalatku, pengabdianku, hidup dan matiku, semata-mata untuk Allah SWT, pemelihara alam semesta.’’ Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu LILLAH. LILLAH bisa berarti kepunyaan Allah SWT, karena Allah dan untuk Allah. Tingkat Ikhlas tertinggi adalah mengerjakan setiap amal untuk Allah SWT.
’’Seungguhnya mengkhawatirkan amal itu lebih berat dari amal itu sendiri. Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal, lalu ditetapkan baginya amal orang-arang yang shaleh, yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang dilipatgandakan tujuhpuluh kali. Lalu setan senantiasa menghampiri, sehingga ia menceritakan amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai perbuatan riya’. Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya takut kepada Allah SWT dan sesungguhnya rita’ itu merupakan syirik.’’ (HR. Baihaqi- Abu Darda’ ra)
Sahabatkau! Sesungguhnya ’ikhlas’ itu sesuatu yang berat dan sulit dicapai. Sampai-sampai seseorang yang masih menyaksikan ikhlas di dalam keikhlasannya, maka ia dianggap orang yang belum benar-benar ikhlas. Dzunnun al-Mishri ditanya, ’’kapan seorang hamba mengetahui bahwa dirinya termasuk orang yang ikhlas?’’ Ia menjawab,’’jika hamba itu sudah mengerahkan seluruh kemampuannya dalam ketaatan dan ia merasa senang kedudukannya jatuh di hadapan manusia.’’ Menurut Yahya bin Mu’adz,’’seorang hamba menjadi orang ikhlas, apabila akhlaqnya seperti akhlaq bayi yang masih menyusu, yang tidak peduli orang memujinya atau mencelanya.’’
Ali Bin Abi Thalib ra berkata, ’’ sesungguhnya, orang yang riya’ memiliki tiga ciri : 1) Malas jika sedang menyendiri dan mengerjakan shalat sunnah sambil duduk, 2) Penuh semangat jika bersama orang yang banyak, 3) Menambah amal jika orang memujinya dan jika orang mengejeknya maka ia mengurangi amalnya.’’ Karena itulah Ikrimah ra berkata,’’Perbanyaklah niat yang benar, karena riya’ tidak akan memasuki niat (yang benar)’’
Mulailah shalt dengan niat yang benar, sehinnga benar-benar ikhlas dan terjauh dari riya’. Sahabatku! Engkau bisa menilai sendiri, apakh shalatmu ikhlas atau bercampur dengan riya’. Caranya antara lain : Apakah ketika engkau tidal dilihat orang pada waktu shalat, engkau bersemangat dalam shalatmu, ataukah engkau berdiri dengan bermalas-malasan. Apakah engkau membaguskan shalatmu, memperpanjang shalatmu, menambah berbagai shalat sunnah beserta shalat fardhu, karena dipuji atau ingin mendapatkan pujian seseorang. Perhatikanlah, apakah kalau ada orang yang mencelamu, tidak memuji atau engkau tidak mengharap pujian seseorang, engkau tetap membaguskan, menyempurnakan dan memperbanyak shalatmu ataukah tidak. Jadi, marilah kita memulai shalat dengan rasa ’ikhlas’ dan itu hanya bisa di capai ketika kita shalat dengan ’niat yang benar’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar